Langsung ke konten utama

Inkontinensia dengan berbagai Hubungannya....


Hubungan Diabetes Melitus terhadap inkontinesia
Hiperglikemia dapat menyebabkan efek toksik melalui kerusakan saraf, termasuk dalam mekanisme yang mungkin untuk ini adalah aktivasi jalur polyol (yang menghasilkan akumulasi sorbitol dan fruktosa), meningkatkan produksi radikal bebas, mengaktifkan protein kinase C, dan meningkatkan pembentukan produk akhir terglikasi lanjutan. Gangguan metabolisme ini menyebabkan degenerasi aksonal dan gangguan konduksi saraf, yang kemudian bermanifestasi sebagai hiposensasi kandung kemih. Penurunan aktivitas asetilkolinesterase dalam biopsi kandung kemih pasien diabetes mungkin karena degenerasi aksonal dan yang lebih penting, proliferasi sel Schwann terjadi dalam upaya untuk menyebabkan penyelamatan regeneratif setelah demielinasi atau degenerasi aksonal.

Penurunan sintesis faktor pertumbuhan saraf di kandung kemih atau transportasi faktor pertumbuhan saraf yang rusak ke lumbosacral dorsal rootlia dikaitkan dengan neuropati diabetes dan disfungsi kandung kemih.
Tekanan dari kandung kemih yang over-distended dapat secara refleks menghambat aktivitas parasimpatik. Di sisi lain, berusaha buang air besar dapat mempengaruhi otot dasar panggul dan mengarah ke rectocele, cystocele (pada wanita), peningkatan risiko inkontinensia stres dan pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.

Hubungan pneumonia terhadap inkontinensia
Manifestasi khas pneumonia adalah batuk, sputum produktif, sesak napas, demam, ronki, leukositosis , infiltrat, hal tersebut sesuai dengan gejala yang dijelaskan dalam skenario. Insiden inkontinensia urin terdapat pada 18,1% pasien pneumonia. Inontinensia urin yang terjadi pada pasien penumonia tergolong ke dalam inkontinensia akut yang terjadi secara mendadak yang berkaitan dengan kondisi sakit akut yang menghilang jika kondisi akut teratasi. Pada usia lanjut, inkontinensia urin juga berhubungan dengan depresi, batuk, gangguan mobilitas, demensia, depresi, stroke, DM dan parkinson.

Hubungan penggunaan Captopril pada Hipertensi terhadap inkontinensia
Kaptopril merupakan ACE inhibitor yang pertama ditemukan dan banyak digunakan di klinik untuk pengobaan hipertensi. Namun sering kali efek samping yang ditimbulkan adalah batuk kering dengan insidens 5-20%, lebih sering pada wanita dan lebih sering terjadi pada malam hari. Dapat terjadi segera atau setelah beberapa lama pengobatan. Diduga efek samping ini nada kaitannya dengan peningkatan kadar bradikinin dan substansi P, dan/atau prostaglandin. Batuk yang ditimbukan sebagai efek samping captopril berkaitan dengan kejadian stres inkontinensia. Akibat dari peningkatan tekanan intra abdomen yang tiba-tiba.

Hubungan riwayat multipara terhadap inkontinensia
Inkontinensia urin lebih sering ditemukan pada wanita dengan jumlah anak yang banyak.7 Ada yang mengatakan bahwa jarak antara riwayat persalinan pertama dengan persalinan berikutnya akan mempengaruhi risiko terjadinya inkontinensia urin sebesar 30%.18 Perubahan degeneratif pada sistem persarafan otonomik dari saluran kemih bagian bawah atau tekanan mekanik yang ditimbulkan oleh kehamilan itu sendiri mungkin merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya inkontinensia urin. Denervasi parsial dari otot-otot dasar panggul diperkirakan adanya kerusakan pada nervus pudendus yang disebabkan baik oleh karena persalinan atau peregangan pada abdomen yang terlalu lama. Kerusakan jaringan ikat pada persalinan ini dapat mempengaruhi daya penyangga pada bagian leher kandung kencing yang dapat menyebabkan stress inkontinensia, amat mungkin dikarenakan jaringan ikat parauretral yang menjadi lebih kaku atau kelemahan dari fasia. Pada wanita dengan riwayat kehamilan 3 kali atau lebih didapatkan angka kejadian inkontinensia urin yang tinggi. Demikian pula dengan wanita yang memiliki 3 anak atau lebih juga memiliki angka kejadian inkontinensia urin yang lebih tinggi.

Hubungan jenis kelamin dan usia lanjut terhadap inkontinensia
Inkontinensia urin akan lebih sering dijumpai pada wanita lanjut usia, hal ini berhubungan dengan penurunan kadar estrogen yang mempengaruhi perubahan morfologi dan fisiologi pada kandung kemih dan uretra, sehingga pada dinding kandung kemih terjadi peningkatan fibrosis dan kandungan kolagen sehingga fungsi kontraktil tidak efektif lagi. Atrofi mukosa, perubahan vaskularisasi submukosa, dan menipisnya lapisan otot uretra mengakibatkan menurunnya tekanan penutupan uretra (Setiati dan Pramantara, 2007).

Hubungan Obesitas terhadap inkontinensia
Orang dengan berat badan berlebih mengalami penumpukan beban di daerah abdomen. Beban tersebut akan memberi penekanan pada kandung kemih, sehingga mengakibatkan kandung kemih lebih mudah mengalami pengeluaran urin secara tidak sengaja. Selain itu, disebutkan pula bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penurunan berat badan dengan perubahan tekanan kandung kemih pada orang dengan kelebihan berat badan. Penurunan berat badan ini menyebabkan tekanan terhadap kandung kemih akan menjadi lebih rendah.
Ada beberapa alasan mekanik dan fisiologi mengapa peningkatan IMT dikaitkan dengan inkontinensia urin. Semakin tinggi IMT seseorang maka diikutii peningkatan tekanan intra abdomennya yang semakin tinggi. Tentu saja peningkatan ini akan semakin menekan dasar panggul dan mengurangi kemampuan pengendalian uretra dan kandung kemih. Pada keadaan ini besarnya peningkatan tekanan intra abdomen mampu untuk menekan urin ke uretra dengan sangat mudah.











Referensi :
Golbidi S, Laher I. Bladder Dysfunction in Diabetes Mellitus. Frontiers in Pharmacology. 2010;1:136. doi:10.3389/fphar.2010.00136.
Perkumpulan Kontinensia Indonesia (PERKINA).2012.Panduan Tata Laksana Inkontinensia Urin pada Dewasa
Subak L.L., Wing R., West D.S., Franklin F., Vittinghoff E., Creasman J.M., Richter H.E., Myers D., Burgio K.L., Gorin A.A., Macer J., Kusek J.W., Grady D. 2009. Weight Loss to Treat Urinary Incontinence in Overweight and Obese Women. N Engl J Med. 360:481-90
Greer W.J., Richter H.E., Bartolucci A.A., Burgio K.L. 2008. Obesity and Pelvic Floor Disorder. Obstetrics and Gynecology. Vol 112(2): 341.
Setiati Siti dan Pramantara I Dewa P. 2007. Inkontinensia Urin dan Kandung Kemih Hiperaktif. Dalam : Aru W. Sudoyo, Bambang S., Idrus Alwi, Marcellus S.K., Siti setiati. Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Ed.IV. Jakarta : FK UI. pp: 1392-5.
Tendean, Hermie MM.Deteksi Inkontinensia Urin pada Usia Post Menopause dengan Menggunakan Kuesioner IIQ-7 dan UDI-6 “Urinary Incontinence Detection In Post-Menopause Age Using IIQ-7 And UDI-6”. Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi / RSU Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado. JKM. Vol. 6, No. 2, Februari 2007
Gunawan, Sulistia Gan.2016.Farmakologi dan terapi, Edisi 6. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran UI.Jakarta:Badan penerbit FK UI
Sari, Elza Febria. C, Martin Rumende, Kuntjoro Harimurti. Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Diagnosis Pneumonia pada Pasien Usia Lanjut. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. Vol. 3, No. 4. Desember 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KLASIFIKASI BUNYI DAN BISING (MURMUR)

KLASIFIKASI BUNYI DAN BISING (MURMUR) Bunyi dan bising (murmur) dapat diklasifikasikan dalam skala satu sampai enam sebagai berikut: Tidak terdengar selama beberapa detik pertama auskultasi, baru terdengar setelah pemeriksa menyesuaikan diri. Terdengar segera tetapi samar-samar. Terdengar jelas tanpa terabanya denyutan ("thrust") atau getaran ("thri11"). Terdengar keras disertai dengan terabanya ("thrust") dan getaran ("thrill"). Terdengar keras disertai dengan terabanya denyutan dan getaran, walaupun ujung stetoskop hanyasekedar menyentuh dinding dada. Terdengar keras dengan terabanya denyutan dan getaran walaupun stetoskop tidak menyentuh dinding dada. Jenis-jenis bising • Bising sistolik  Bising sistolik adalah bising yang terdengar antara Sr dan 52. Pada beberapa orang, bising sistolik mungkin normal. Terurama bila terdapat pada bayi atau anak-anak karena dinding dada mereka yang ripis. Pada orang dewasa bising sistol...

Bagaimana sih mekanisme gejala yang timbul pada penderita Leptospirosis ?

Mekanisme demam Demam terjadi oleh karena pengeluaran zat pirogen dalam tubuh. Zat pirogen sendiri dapat dibedakan menjadi dua yaitu eksogen dan endogen. Pirogen eksogen adalah pirogen yang berasal dari luar tubuh seperti mikroorganisme dan toksin. Sedangkan pirogen endogen merupakan pirogen yang berasal dari dalam tubuh meliputi interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), dan tumor necrosing factor-alfa (TNF-A). Sumber utama dari zat pirogen endogen adalah monosit, limfosit dan neutrofil. Seluruh substansi di atas menyebabkan selsel fagosit mononuclear (monosit, makrofag jaringan atau sel kupfeer) membuat sitokin yang bekerja sebagai pirogen endogen, suatu protein kecil yang mirip interleukin, yang merupakan suatu mediator proses imun antar sel yang penting. Sitokin-sitokin tersebut dihasilkan secara sistemik ataupun local dan berhasil memasuki sirkulasi. Interleukin-1, interleukin-6, tumor nekrosis factor α dan interferon α, interferon β serta interferon γ merupakan sitokin yang...

PRIMARY SURVEY

Primary Survey Penilaian   keadaan   pasien dan   prioritas terapi didasarkan jenis perlukaan, tanda-tanda vital, dan mekanisme trauma. Pada pasien yang terluka parah, terapi diberikan berdasarkan prioritas. Tanda vital pasien harus dinilai secara cepat dan efisien. Pengelolaan pasien berupa primary survey yang cepat dan kemudian resusitasi, secondary survey , dan akhirnya terapi definitif. Proses ini merupakan ABCDE-nya trauma, dan berusaha mengenali keadaan yang mengancam nyawa terlebih dahulu, dengan berpatokan pada urutan berikut : 1.     Airway, menjaga airway dengan control servikal ( cervical spine control) 2.     Breathing, menjaga pernafasan dengan ventilasi 3.     Circulation dengan control perdarahan ( hemorrhage control ) 4.     Disability : status neurologis 5.     Exposure/environmental control : buka baju pasien, tetapi cegah hipotermia Airway a.   ...