Kandidiasis Vulvovaginalis (KVV)
Definisi
Kandidiasis vulvovaginalis atau kandidosis vulvovaginalis merupakan infeksi mukosa vagina dan atau vulva (epitel tidak berkeratin) yang disebabkan oleh jamur spesies Candida. Infeksi dapat terjadi secara akut, subakut, dan kronis.
Etiologi
Penyebab terbanyak adalah spesies Candida albicans (80-90%), diikuti spesies Candida nonalbicans seperti Candida parapsilosis, Candida tropicalis, Candida krusei, dan Candida glabrata yang juga sering menimbulkan KVV dan lebih banyak terjadi resistensi terhadap terapi konvensional.
Epidemiologi
KVV merupakan salah satu infeksi yang paling banyak dikeluhkan wanita. Sekitar 70-75% wanita setidaknya sekali terinfeksi KVV selama masa hidupnya, paling sering terjadi pada wanita usia subur, pada sekitar 40- 50% cenderung mengalami kekambuhan atau serangan infeksi kedua.2 Lima hingga delapan persen wanita dewasa mengalami KVV berulang, yang didefinisikan sebagai empat atau lebih episode setiap tahun yang dikenal sebagai kandidiasis vulvovaginalis rekuren (KVVR).
Sebuah studi internasional oleh Foxman dkk mengenai tingkat kandidiasis vulvovaginal di negara-negara Barat menemukan tingginya insiden penyakit di negara-negara ini. Para peneliti meneliti tingkat di Amerika Serikat dan 5 negara Eropa, dengan menggunakan survei dari sekitar 6000 wanita berusia 16 tahun ke atas. Mereka menentukan bahwa di antara 6 negara, tingkat kandidiasis vulvovaginal berkisar antara 29-49%. Infeksi spesies Candida paling umum terjadi pada usia subur. Vaginitis atrofik bisa terjadi beberapa tahun setelah menopause.
Faktor resiko
Kandidiasis vulvovaginitis dapat terjadi apabila ada faktor predisposisi baik eksogen maupun endogen.Faktor eksogen untuk timbulnya kandidiasis vulvovaginitis adalah kegemukan, DM, kehamilan, dan Infeksi kronik dalam servik atau vagina. Sedangkan faktor eksogennya iklim, panas dan kelembaban yang meningkat serta higyeni yang buruk.
Patogenesis
Patogenesis kandidiasis vulvovaginitis dimulai dari adanya faktor predisposisi memudahkan pseudohifa candida menempel pada sel epitel mukosa dan membentuk kolonisasi. Kemudian candida akan mengeluarkan zat keratolitik (fosfolipase) yang menghidrolisis fosfolopid membran sel epitel, sehingga mempermudah invasi jamur kejaringan. Dalam jaringan candida akan mengeluarkan faktor kemotaktik neutrofil yang akan menimbulkan raksi radang akut yang akan bermanifestasi sebagai daerah hiperemi atau eritema pada mukosa vulva dan vagina. Zat keratolitik yang dikeluarkan candida akan terus merusak epitel mukosa sehingga timbul ulkus-ulkus dangkal. Yang bertambah berat dengan garukan sehingga timbul erosi. Sisa jaringan nekrotik, sel-sel epitel dan jamur akan membentuk gumpalan bewarna putih diatas daerah yang eritema yang disebut flour albus.
Gejala klinis
a) Kandidiasis vulvovaginal akut
· Vulva pruritus dan rasa terbakar - gejala primer penyakit ini
· Eritema dan edema pada vestibula dan labia mayora dan minora
· Thrush patch - Biasanya ditemukan secara longgar melekat pada vulva
· flour albus bewarna putih kekuningan disertai gumpalan–gumpalan seperti kepala susu
b) Kandidiasis vulvovaginal kronis
· Edema ditandai dan lichenifikasi vulva dengan margin yang kurang jelas
· Greyish sheen terdiri dari sel epitel dan organisme yang menutupi daerah tersebut
· Pruritus parah dan terbakar
· Iritasi dan nyeri
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis yaitu didapatkan adanya rasa gatal dan panas pada vulva yang kadang-kadang diikuti nyeri sesudah miksi dan dispaneuria serta adanya faktor predisposis seperti kegemukan, DM, kehamilan, infeksi di servik dan vagina, kelembapan yang meningkat dan higyeni yang buruk. Gambaran klinis berupa eritema dan hiperemis yang dapat disertai edema pada labia mayora dan minora, adanya ulkus-ulkus dan daerah erosi serta flour albus bewarna kekuningan. Diagnosis juga disertai dengan pemeriksaan penunjang antara lain kerokan kulit atau usapan mukosa diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan gram. Pada pewarnaan gram terlihat sel lagi, blastospora dan hifa semu.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium, jika diindikasikan, untuk pasien dengan vulvovaginitis mencakup pemeriksaan pH vagina dan mikroskopi. kultur jamur dapat digunakan jika diagnosis kandidiasis vulvovaginal tidak pasti.
Pada uji coba wet-mount atau kalium hidroksida (KOH). Di bawah pengamatan mikroskopik, spora dan konidia terlihat. Kehadiran blastospora ragi atau pseudohyphae dapat dideteksi pada sekitar 30-50% pasien dengan kandidiasis vulvovaginal simtomatik.
Persiapan KOH dibuat dengan menempatkan setetes cairan vagina pada slide dengan setetes KOH 10-20% dan menggunakan coverslip untuk melindungi lensa mikroskop. Teknik ini sangat berguna dalam diagnosis vaginitis candidal, karena sediaan dapat mengungkapkan filamen, miselia, atau pseudohyphae yang baru.
Menambahkan KOH ke larutan lyses sel darah putih, sel darah merah, dan sel epitel vagina, membuat hifa tunas bercabang tahan pepaya Candida lebih mudah dilihat. Meskipun metode ini dapat meningkatkan sensitivitas pemeriksaan, namun menghasilkan temuan negatif pada setidaknya sepertiga pasien dengan kandidiasis simtomatik. Namun demikian, hasil positif dalam kombinasi dengan pH vagina normal, sangat membantu dalam mengkonfirmasikan diagnosis.
Pengukuran pH vagina menggunakan kertas Nitrazine adalah satu-satunya temuan terpenting yang mendorong proses diagnostik dan harus selalu ditentukan. PH vagina dapat diuji dengan menggunakan kertas pH rentang sempit. PH di atas 4,5 menunjukkan infeksi seperti vaginosis bakteri atau trikomoniasis (pH 5-6) dan membantu menyingkirkan kandidiasis vulvovagina (pH 4-4.5). Spesimen diperoleh di pertengahan vagina, biasanya dinding samping, dan bukan forniks posterior, karena daerah itu terkontaminasi oleh lendir serviks basa.
Penatalaksanaan
Pengobatan topikal diberikan untuk KVV akut atau ringan, sedangkan pada kasus yang berat diberikan pengobatan sistemik. Macam obat oral yang direkomendasikan antara lain: Mikonazol atau klotrimazol 200 mg intravagina, setiap hari, selama 3 hari atau Klotrimazol 500 mg intravagina dosis tunggal atau Flukonazol 150 mg, per oral dosis tunggal, atau Itrakonazol 200 mg, per oral dosis tunggal. Flukonazol dan Itrakonazol tidak boleh diberikan pada ibu hamil.
Prognosis
Kebanyakan wanita dengan kandidiasis vulvovaginal biasanya merespon dengan cepat terhadap pengobatan. Bagaimanapun, kandidiasis vulvovaginal rekuren, yang didefinisikan sebagai 4 atau lebih episode infeksi per tahun, dapat terjadi, walaupun pada kurang dari 5% wanita sehat.
Referensi :
Jill M Krapf, MD, FACOG. 2018. Vulvovaginitis. The Medscape Journal of Medicine. Online version https://emedicine.medscape.com/article/2188931-overview [ diakses pada 14 Maret 2018]
Gispen, W. (2007). Leiden Cytologi and pathology Laboratory Leiden Netherland. Vulvovaginal Candida, 41-60.
Ditta Harnindya, Indropo Agusni. 2012. Studi Retrospektif: Diagnosis dan Penatalaksanaan Kandidiasis Vulvovaginalis Departemen/Staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya.
Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pengobatan Infeksi Menular Seksual.2011
Komentar
Posting Komentar