Langsung ke konten utama

KLASIFIKASI BUNYI DAN BISING (MURMUR)


KLASIFIKASI BUNYI DAN BISING (MURMUR)

Bunyi dan bising (murmur) dapat diklasifikasikan dalam skala satu sampai enam sebagai berikut:
  1. Tidak terdengar selama beberapa detik pertama auskultasi, baru terdengar setelah pemeriksa menyesuaikan diri.
  2. Terdengar segera tetapi samar-samar.
  3. Terdengar jelas tanpa terabanya denyutan ("thrust") atau getaran ("thri11").
  4. Terdengar keras disertai dengan terabanya ("thrust") dan getaran ("thrill").
  5. Terdengar keras disertai dengan terabanya denyutan dan getaran, walaupun ujung stetoskop hanyasekedar menyentuh dinding dada.
  6. Terdengar keras dengan terabanya denyutan dan getaran walaupun stetoskop tidak menyentuh dinding dada.

Jenis-jenis bising
Bising sistolik 
Bising sistolik adalah bising yang terdengar antara Sr dan 52. Pada beberapa orang, bising sistolik mungkin normal. Terurama bila terdapat pada bayi atau anak-anak karena dinding dada mereka yang ripis. Pada orang dewasa bising sistolik yang "normal" mungkin disebabkan oleh bertambah cepatnya aliran darah, seperri pada orang hamil.
Bising sistolik terjadi selama periode sistole ventrikel. Aliran darah melalui katup aofia atav katup pulmonal, atau aliran regurgitasi yang kembali melalui katup mitral atau katup trikuspid, dapat menyebabkan bising sistolik. Katup-katup itu mungkin normal (tetapi dengan aliran yang berkecepatan tinggi) atau abnormal. Bising sistolik dapat terdengar pada anak-anak yang normal atau pada seorang wanita hamil. Kelainankelainan yang umum dapat memberi gejala bising sistolik antara lain insufisiensi katup mitral, insufisiensi katup trikuspid, stenosis aorra, stenosis pulmonal dan defek septum interventrikular.
Bising pansistolik (atau holosistolik) adalah bising yang terdengar terus sepanjang sistole. Dimulai dengan S1 dan berakhir dengan S2. Karena rekanan di ruang yang mengirim tetap lebih tinggi dibanding tekanan di ruang yang menerima, maka bising terdengar terus menerus. Bising ini terdengar biasanya pada regurgitasi katup mitral, regurgitasi trikuspid, dan defek septum ventrikular.

Bising diastolik 
Bising diastolik adalah bising yang terdengar antara S2 dan S1 berikutnya. Berbeda dengan bising sistolik, bising diastolik biasanya harus dianggap patologik dan tidak normal.
Ada tiga mekanisme utama yangdapat menyebabkan terjadinya bising diastolik:
  1. Inkompetensi katup rorta atau katup pulmonal. Selama diastole ventrikel, tekanan di dalam ventrikel-ventrikel lebih kecil daripada tekanan di aorta atau arteri pulmonalis. Jika katup aorta atau katup pulmonalis inkompeten, darah beregurgitasi balik ke dalam ventrikel. Bising akibat regurgitasi ini adalah bising diastolik.
  2. Stenosis katup mitral atau stenosis katup trikuspid. Selama fase pengisian cepat pada diastole ventrikel, jika darah dipaksa melalui katup-katup yang stenotik masuk ke dalam ventrikel, maka bising diastolik akan terjadi.
  3. Bertambahnya aliran darah yang melalui katup mitral atau katup trikuspid. Jika terdapat pertambahan volume atau kecepatan aliran darahyangmelalui katup mitral atau katup trikuspid selama diastole ventrikel, maka terjadilah bising diastolik.

Bising presistolik atau bising pada akhir (late) diastolik mulai pada setengah bagian akhir dari fase diastolik, memuncak pada sepertiga bagian akhir dari fase diastolik, hingga pada S1. (S2; terdengar bersih; S1 sulit untuk di dengar). Bising ini juga dikenal sebagai bising prasistolik. Biasanya merupakan komponen dari bising pada stenosis katup mitral atau stenosis katup trikuspid. Bising ini berfrekuensi rendah dan berkualitas menderu (rumbling).



Referensi :
Gray, huon H et. al; alih bahasa: azwar agus dan asri dwiR.2005.Lecture Notes Kardiologi edisi keempat.Surabaya:Erlangga
Erickson, Barbara;Alih Bahasa: Dr. Hendarto Natadidjaja, Sp. PD.Auskultasi Bunyi dan Bising Jantung. Tangerang:binarupa AKSARA Publisher
Lynn S. Bickley. Alih bahasa: dr. Andry Hartono.2003.Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan Edisi 8.Jakarta:EGC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inkontinensia dengan berbagai Hubungannya....

Hubungan Diabetes Melitus terhadap inkontinesia Hiperglikemia dapat menyebabkan efek toksik melalui kerusakan saraf, termasuk dalam mekanisme yang mungkin untuk ini adalah aktivasi jalur polyol (yang menghasilkan akumulasi sorbitol dan fruktosa), meningkatkan produksi radikal bebas, mengaktifkan protein kinase C, dan meningkatkan pembentukan produk akhir terglikasi lanjutan. Gangguan metabolisme ini menyebabkan degenerasi aksonal dan gangguan konduksi saraf, yang kemudian bermanifestasi sebagai hiposensasi kandung kemih. Penurunan aktivitas asetilkolinesterase dalam biopsi kandung kemih pasien diabetes mungkin karena degenerasi aksonal dan yang lebih penting, proliferasi sel Schwann terjadi dalam upaya untuk menyebabkan penyelamatan regeneratif setelah demielinasi atau degenerasi aksonal. Penurunan sintesis faktor pertumbuhan saraf di kandung kemih atau transportasi faktor pertumbuhan saraf yang rusak ke lumbosacral dorsal rootlia dikaitkan dengan neuropati diabetes dan disfung...

Bagaimana sih mekanisme gejala yang timbul pada penderita Leptospirosis ?

Mekanisme demam Demam terjadi oleh karena pengeluaran zat pirogen dalam tubuh. Zat pirogen sendiri dapat dibedakan menjadi dua yaitu eksogen dan endogen. Pirogen eksogen adalah pirogen yang berasal dari luar tubuh seperti mikroorganisme dan toksin. Sedangkan pirogen endogen merupakan pirogen yang berasal dari dalam tubuh meliputi interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), dan tumor necrosing factor-alfa (TNF-A). Sumber utama dari zat pirogen endogen adalah monosit, limfosit dan neutrofil. Seluruh substansi di atas menyebabkan selsel fagosit mononuclear (monosit, makrofag jaringan atau sel kupfeer) membuat sitokin yang bekerja sebagai pirogen endogen, suatu protein kecil yang mirip interleukin, yang merupakan suatu mediator proses imun antar sel yang penting. Sitokin-sitokin tersebut dihasilkan secara sistemik ataupun local dan berhasil memasuki sirkulasi. Interleukin-1, interleukin-6, tumor nekrosis factor α dan interferon α, interferon β serta interferon γ merupakan sitokin yang...