Mekanisme demam
Demam terjadi
oleh karena pengeluaran zat pirogen dalam tubuh. Zat pirogen sendiri dapat
dibedakan menjadi dua yaitu eksogen dan endogen. Pirogen eksogen adalah pirogen
yang berasal dari luar tubuh seperti mikroorganisme dan toksin. Sedangkan
pirogen endogen merupakan pirogen yang berasal dari dalam tubuh meliputi
interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), dan tumor necrosing factor-alfa
(TNF-A). Sumber utama dari zat pirogen endogen adalah monosit, limfosit dan
neutrofil. Seluruh substansi di atas menyebabkan selsel fagosit mononuclear
(monosit, makrofag jaringan atau sel kupfeer) membuat sitokin yang bekerja
sebagai pirogen endogen, suatu protein kecil yang mirip interleukin, yang
merupakan suatu mediator proses imun antar sel yang penting. Sitokin-sitokin
tersebut dihasilkan secara sistemik ataupun local dan berhasil memasuki
sirkulasi. Interleukin-1, interleukin-6, tumor nekrosis factor α dan interferon
α, interferon β serta interferon γ merupakan sitokin yang berperan terhadap proses terjadinya demam.
Sitokin-sitokin tersebut juga diproduksi oleh
sel-sel di Susunan Saraf Pusat (SSP) dan kemudian bekerja pada daerah
preoptik hipotalamus anterior. Sitokin akan memicu pelepasan asam arakidonat
dari membrane fosfolipid dengan bantuan enzim fosfolipase A2. Asam arakidonat selanjutnya
diubah menjadi prostaglandin karena peran dari enzim siklooksigenase
Enzim
sikloosigenase terdapat dalam dua bentuk (isoform), yaitu siklooksigenase-1
(COX-1) dan siklooksigenase-2 (COX-2). Kedua isoform berbeda distribusinya pada
jaringan dan juga memiliki fungsi regulasi yang berbeda. COX-1 merupakan enzim
konstitutif yang mengkatalis pembentukan prostanoid regulatoris pada berbagai
jaringan, terutama pada selaput lender traktus gastrointestinal, ginjal,
platelet dan epitel pembuluh darah. Sedangkan COX-2 tidak konstitutif tetapi
dapat diinduksi, antara lain bila ada stimuli radang, mitogenesis atau
onkogenesis. Setelah stimuli tersebut lalu terbentuk prostanoid yang merupakan
mediator nyeri dan radang. Penemuan ini mengarah kepada, bahwa COX-1 mengkatalis
pembentukan prostaglandin yang bertanggung jawab menjalankan fungsi-fungsi
regulasi fisiologis, sedangkan COX-2 mengkatalis pembentukan prostaglandin yang
menyebabkan radang.
Prostaglandin
E2 (PGE2) adalah salah satu jenis prostaglandin yang menyebabkan demam.
Hipotalamus anterior mengandung banyak neuron termosensitif. Area ini juga kaya
dengan serotonin dan norepineprin yang berperan sebagai perantara terjadinya
demam, pirogen endogen meningkatkan konsentrasi mediator tersebut. Selanjutnya
kedua monoamina ini akan meningkatkan adenosine monofosfat siklik (cAMP) dan
prostaglandin di susunan saraf pusat sehingga suhu thermostat meningkat dan
tubuh menjadi panas untuk menyesuaikan dengan suhu thermostat.
Mekanisme
menggigil
Menggigil
ditimbulkan agar dengan cepat meningkatkan produksi panas, sementara
vasokonstriksi kulit juga berlangsung untuk dengan cepat mengurangi pengeluaran
panas. Kedua mekanisme tersebut mendorong suhu naik. Bila pengeluaran panas melebihi pemasukan panas, maka termostat ini akan
berusaha menyeimbakan suhu tersebut dengan cara memerintahkan otot-otot rangka
kita untuk berkontraksi(bergerak) guna menghasilkan panas tubuh. Kontraksi
otot-otok rangka ini merupakan mekanisme dari menggigil.
Terletak
pada bagian dorsomedial dari hipotalamus
posterior dekat dinding ventrikel ketiga yang merupakan area pusat motorik primer untuk menggigil.
Area ini normalnya dihambat oleh sinyal dari pusat panas pada area
preoptik-hipotalamus anterior, tapi dirangsang oleh sinyal dingin dari kulit
dan medulla spinalis.
Ketika
terjadi peningkatan yang tiba-tiba dalam “produksi panas”, pusat ini
teraktivasi ketika suhu tubuh turun bahkan hanya beberapa derajat dibawah nilai
suhu kritis. Pusat ini kemudian meneruskan sinyal yang menyebabkan menggigil
melalui traktus bilateral turun ke batang otak, ke dalam kolumna lateralis
medulla spinalis, dan akhirnya, ke neuron motorik anterior. Sinyal ini tidak
teratur, dan tidak benar-benar menyebabkan gerakan otot yang sebenarnya.
Sebaliknya, sinyal tersebut meningkatkan tonus otot rangka diseluruh tubuh.
Ketika tonus meningkat proses menggigil dimulai.
Mekanisme
ikterus
Hiperbilirubinemia
konjugasi / direk dapat terjadi akibat penurunan eksresi bilirubin ke dalam
empedu.Gangguan ekskresi bilirubin dapat disebabkan oleh kelainan intrahepatik
dan ekstrahepatik, tergantung ekskresi bilirubin terkonjugasi oleh hepatosit akan
menimbulkan masuknya kembali bilirubin ke dalam sirkulasi sistemik sehingga timbul
hiperbilirubinemia. Kelainan hepatoseluler dapat berkaitan dengan : Hepatitis, sirosis
hepatis, alkohol, leptospirosis, kolestatis obat (CPZ), zat yg.meracuni hati fosfor,
klroform, obat anestesi dan tumor hati multipel. Ikterus pada trimester
terakhir kehamilan hepatitis virus, sindroma Dubin Johnson dan Rotor, ikterus
pasca bedah. Pada hati, bakteri seperti Leptospira
menyebabkan kerusakan ikatan antar sel hepatosit, penyumbatan pada kanalikuli
hingga nekrosis fokal pada sel-sel periportal. Kerusakan intrahepatik ini dapat
memberikan gambaran jaundice pada penderita.
Mekanisme
muntah darah
Pada bakteri
misalnya Leptospira virulen mempunyai kemampuan motilitas yang tinggi,
lesi primer adalah kerusakan dinding endotel pembuluh darah dan menimbulkan
vaskulitis serta merusak organ. Vaskulitis yang timbul dapat disertai dengan
kebocoran dan ekstravasasi sel. Terjadinya vaskulitas akan merangsang proses
muntah. Dimana muntah dimulai dengan inspirasi dalam dan penurupan glotis.
Kontraksi diafragma menekan ke bawah ke lambung sementara secara bersamaan kontraksi
otor-otot perut menekan rongga abdomen, meningkatkan tekanan intraabdomen dan
memaksa visera abdomen bergerak ke atas. Sewaktu lambung yang melemas terperas
antara diafragma di atas dan rongga
abdomen yang mengecil di bawah, isi lambung terdorong ke atas melalui sfingter-sfingter
yang melemas dan esofagus serta keluar melalui mulut. Glotis tertutup, sehingga
bahan muntah tidak masuk ke saluran napas. Uvula juga terangkar untuk menutup saluran
hidung. Siklus muntah dapat berulang beberapa kali sampai lambung kosong.
Muntah biasanya didahului oleh pengeluaran liur berlebihan, berkeringat,
peningkatan denyut jantung, dan sensasi mual, yang semuanya khas untuk lepas
muatan generalisata sistem saraf otonom.
Referensi
Nelwan RHH. Demam: tipe dan
pendekatan, Dalam: Sudoyo AW., Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata , Setiati S.
Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid ketiga. Edisi keempat.
Jakarta:Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam, 2006. 1719
Ganong, W. F. 2009. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi
22. Jakarta: EGC.
Guyton, A.C., dan Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
Edisi 11. Jakarta:EGC
Sherwood,
L. 2014. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC
Shakinah, Sharifah. Medical review:
Leptospira dan Penyakit Weil’s (Vol. 28, No. 2, Edisi Desember 2015). Fakultas
kedokteran Universitas Padjajaran
Komentar
Posting Komentar