Langsung ke konten utama

IMUNISASI DASAR LENGKAP DAN IMUNISASI PILIHAN

A.                Imunisasi dasar
Ke-lima jenis imunisasi dasar yang wajib diperoleh adalah:
a.   Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberculosis (TBC), yaitu penyakit paru-paru yang sangat menular yang dilakukan sekali pada bayi sekali pada bayi usia 0-11 bulan
b.      Imunisasi DPT yaitu merupakan imunisasi dengan memberikan vaksin mengandung racun kuman yang telah dihilangkan racunnya akan tetapi masih dapat merangsang pembentukan zat anti(toxoid) untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis, dan tetanus, yang diberikan 3 kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu.
c.       Imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada kaki, yang diberikan 4 kali pada bayi 0-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu
d.      Imunisasi campak adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan kekebalan aktif terhadap penyakit campak karena penyakit ini sangat menular, yang diberikan 1 kali pada bayi usia 9-11 bulan
e.     Imunisasi hepatis B, adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B yaitu penyakit yang dapat merusak hati, yang diberikan 3 kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal 4 minggu cakupan imunisasi lengkap pada anak, yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang didapatkan oleh seorang anak. Sejak tahun 2004 hepatitis-B disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT-HB. (Proverati 2010).
B.                Imunisasi pilihan
Imunisasi pilihan adalah imunisasi lain yang tidak termasuk dalam imunisasi wajib, namun penting diberikan pada bayi, anak, dan dewasa di Indonesia mengingat beban penyakit dari masing-masing penyakit. Yang termasuk dalam imunisasi pilihan ini adalah:
1.    Vaksin Measles, Mumps, Rubella:
   Vaksin MMR bertujuan untuk mencegah Measles (campak), Mumps (gondongan) dan Rubella merupakan vaksin kering yang mengandung virus hidup, harus disimpan pada suhu 2–80C atau lebih dingin dan terlindung dari cahaya.  Dosis: Dosis tunggal 0,5 ml suntikan secara intra muskular atau subkutan dalam. Jadwal: a. Diberikan pada usia 12–18 bulan. b. Pada populasi dengan insidens penyakit campak dini yang tinggi, imunisasi MMR dapat diberikan pada usia 9 (sembilan) bulan.
2.    Haemophilllus influenzae tipe b (Hib)
  Vaksin Hib adalah vaksin polisakarida konyugasi dalam bentuk liquid, yang dapat diberikan tersendiri atau dikombinasikan dengan vaksin DPaT (tetravalent) atau DpaT/HB (pentavalent) atau DpaT/HB/IPV (heksavalent). Kontra Indikasi: Vaksin tidak boleh diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan karena bayi tersebut belum dapat membentuk antibody. Dosis dan Jadwal: a. Vaksin Hib diberikan sejak umur 2 bulan, diberikan sebanyak 3 kali dengan jarak waktu 2 bulan. b. Dosis ulangan umumnya diberikan 1 tahun setelah suntikan terakhir.
3.    Vaksin tifoid
a.   Vaksin oral Ty 21 a Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang diminum selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan. Vaksin ini kontraindikasi pada wanita hamil, ibu menyusui, demam, sedang mengkonsumsi antibiotik . Lama proteksi 5 tahun.
b.     Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni, K vaccine (Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol preserved). Dosis untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 – 12 tahun 0,25 ml dan anak 1 – 5 tahun 0,1 ml yang diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu. Efek samping adalah demam, nyeri kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan. Kontraindikasi demam,hamil dan riwayat demam pada pemberian pertama.
c. Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin diberikan secara intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi pada hipersensitif, hamil, menyusui, sedang demam dan anak umur 2 tahun. Universitas Sumatera Utara Indikasi vaksinasi adalah bila hendak mengunjungi daerah endemik, orang yang terpapar dengan penderita karier tifoid dan petugas laboratorium/mikrobiologi kesehatan.
4.     Vaksin Varisela
            a.     Vaksin diberikan mulai umur masuk sekolah (5 tahun)
            b.   Pada anak ≥ 13 tahun vaksin dianjurkan untuk diberikan dua kali selang 4 minggu - 28 –
c.    Pada keadaan terjadi kontak dengan kasus varisela, untuk pencegahan vaksin dapat diberikan dalam waktu 72 jam setelah penularan (dengan persyaratan: kontak dipisah/tidak berhubungan)
Dosis dan Jadwal: Dosis 0,5 ml suntikan secara subkutan, dosis tunggal
5.    Vaksin Hepatitis A
a.       Populasi risiko tinggi tertular Virus Hepatitis A (VHA).
b.      Anak usia ≥ 2 tahun, terutama anak di daerah endemis. Pada usia >2 tahun antibodi maternal sudah menghilang. Di lain pihak, kehidupan sosialnya semakin luas dan semakin tinggi pula paparan terhadap makanan dan minuman yang tercemar.
c.       Pasien Penyakit Hati Kronis, berisiko tinggi hepatitis fulminan bila tertular VHA.
d.      Kelompok lain: pengunjung ke daerah endemis; penyaji makanan; anak usia 2–3 tahun di Tempat Penitipan Anak (TPA); staf TPA; staf dan penghuni institusi untuk cacat mental; pria homoseksual dengan pasangan ganda; pasien koagulopati; pekerja dengan primata bukan manusia; staf bangsal neonatologi.
Dosis dan Jadwal:a.       Dosis vaksin bervariasi tergantung produk dan usia resipien;b.      Vaksin diberikan 2 kali, suntikan kedua atau booster bervariasi antara 6 sampai 18 bulan setelah dosis pertama, tergantung produk;c.       Vaksin diberikan pada usia ≥ 2 tahun
6.    Vaksin Influenza
      a.    Semua orang usia ≥ 65 tahun
      b.   Anak dengan penyakit kronik seperti asma, diabetes, penyakit ginjal dan kelemahan sistem imun 
      c.   Anak dan dewasa yang menderita penyakit metabolik kronis, termasuk diabetes, penyakit disfungsi ginjal, hemoglobinopati dan imunodefisiensi
    d.   Orang yang bisa menularkan virus influenza ke seseorang yang berisiko tinggi mendapat komplikasi yang berhubungan dengan influenza, seperti petugas kesehatan dan petugas di tempat perawatan dan orang-orang sekitarnya, semua orang yang kontak serumah, pengasuh anak usia 6–23 bulan, dan orang-orang yang melayani atau erat dengan orang yang mempunyai risiko tinggi
       e.       Imunisasi influenza dapat diberikan kepada anak sehat usia 6–23 bulan
Jadwal dan Dosis
a.         Dosis untuk anak usia kurang dari 2 tahun adalah 0,25 ml dan usia lebih dari 2 tahun adalah 0,5 ml
b.        Untuk anak yang pertama kali mendapat vaksin influenza pada usia ≤ 8 tahun, vaksin diberikan 2 dosis dengan selang waktu minimal 4 minggu, kemudian imunisasi diulang setiap tahun
c.         Vaksin influenza diberikan secara suntikan intra muskular di otot deltoid pada orang dewasa dan anak yang lebih besar, sedangkan untuk bayi diberikan di paha anterolateral
d.        Pada anak atau dewasa dengan gangguan imun, diberikan dua (2) dosis dengan jarak interval minimal 4 minggu, untuk mendapatkan antibodi yang memuaskan
e.         Bila anak usia ≥ 9 tahun cukup diberikan satu kali saja, teratur, setiap tahun satu kali

7.    Vaksin Pneumokokus
Terdapat dua macam vaksin pneumokokus yaitu vaksin pneumokokus polisakarida (pneumococcal polysacharide vaccine/PPV) dan vaksin pneumokokus polisakarida konyugasi (pneumococcal conjugate vaccine/PCV).
Rekomendasi:
a. Vaksin Pneumokokus polisakarida (PPV) diberikan pada:  1) Lansia usia > 65 tahun; 2) Anak usia > 2 tahun yang mempunyai risiko tinggi IPD (Invasive Pneumococcal Disease) yaitu anak dengan asplenia (kongenital atau didapat), penyakit sickle cell, splenic dysfunction dan HIV. Imunisasi diberikan dua minggu sebelum splenektomi; 3) Pasien usia > 2 tahun dengan imunokompromais yaitu HIV/AIDS, sindrom nefrotik, multipel mieloma, limfoma, penyakit Hodgkin, dan transplantasi organ; 4) Pasien usia > 2 tahun dengan imunokompeten yang menderita penyakit kronis yaitu penyakit paru atau ginjal kronis, diabetes; 5) Pasien usia > 2 tahun kebocoran cairan serebrospinal
b. Vaksin polisakarida konjugat (PVC) direkomendasikan pada: 1) Semua anak sehat usia 2 bulan–5 tahun; 2) Anak dengan risiko tinggi IPD termasuk anak dengan asplenia baik kongenital atau didapat, termasuk anak dengan penyakit sickle cell, splenic dysfunction dan HIV. Imunisasi diberikan dua minggu sebelum splenektomi; 3) Pasien dengan imunokompromais yaitu HIV/AIDS, sindrom nefrotik, multipel mieloma, limfoma, penyakit Hodgkin, dan transplantasi organ; 4) Pasien dengan imunokompeten yang menderita penyakit kronis yaitu penyakit paru atau ginjal kronis, diabetes; 5) Pasien kebocoran cairan serebrospinal;6) Selain itu juga dianjurkan pada anak yang tinggal di rumah yang huniannya padat, lingkungan merokok, di panti asuhan dan sering terserang akut otitis media
Jadwal dan Dosis: a. Vaksin PCV diberikan pada bayi umur 2, 4, 6 bulan dan diulang pada umur 12-15 bulan b. Pemberian PCV minimal umur 6 minggu c. Interval antara dua dosis 4-8 minggu d. Paling sedikit diberikan 2 bulan setelah dosis PCV ketiga.

Hubungan antara imunisasi pada anak terhadap penyakit ISPA
Menurut Widarini (2010), Laki-laki dan perempuan mempunyai resiko yang sama untuk mengalami ISPA, namun menurut hasil yang didapatkan anak laki-laki lebih beresiko terkena ISPA dibandingkan dengan anak perempuan. Anak laki-laki yang lebih sering bermain dan berinteraksi dengan ligkungan luar apalagi dengan lingkungan yang kotor sangant rentan terpajan kuman yang dapat menyebabkan penyakit. usia batita lebih rentan mengalami ISPA dibandingkan usia prasekolah. Menurut Domili (2013), anak usia batita lebih banyak mengalami ISPA dikarenakan sistem imunitas anak yang masih lemah dan organ pernapasan anak batita belum mencapai kematangan yang sempurna, sehingga apabila terpajan kuman akan lebih beresiko terkena penyakit.
ISPA dapat disebabkan oleh karena adanya paparan dari virus maupun bakteri misalnya bakteri dari genus streptococcus, haemophylus, staphylococcus, dan pneumococcu, dan jenis virus influenza, parainfluena, dan rhinovirus. ISPA yang terjadi pada balita tidak langsung dipengaruhi oleh imunisasi dasar lengkap walaupun tujuan pemberian imunisasi adalah untuk memberikan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Kebanyakan kasus ISPA yang terjadi didahului oleh penyakit campak yang merupakan salah satu faktor resiko penyebab ISPA. Penyakit campak inilah yang dapat dicegah melalui imunisasi dasar lengkap. (Layuk, 2012). Jadi, imunisasi dasar lengkap yang diberikan bukan untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap ISPA secara langsung, melainkan hanya untuk mencegah faktor yang dapat memacu terjadinya ISPA.
Selain imunisasi dasar lengkap terdapat juga beberapa faktor yang dapat menyebabkan ISPA, antara lain pemberian vitamin A, pemberian imunisasi Hib dan status gizi balita. Faktor-faktor tersebut juga erat hubungannya dengan peningkatan daya tahan tubuh maka walaupun sudah mendapat imunisasi dasar yang lengkap tetapi jika ada salah satu faktor diatas tidak diberikan secara maksimal maka akan mengganggu kekebalan dan ketahanan tubuh balita, sehingga rentan terserang penyakit. Oleh karena itu selain imunisasi dasar lengkap perlu diperhatikan juga kelengkapan pemberian vitamin A yang tepat waktu dan gizi balita yang baik.
Menurut Utami (2013) Walaupun balita telah menerima imunisasi dasar lengkap balita masih beresiko mengalami ISPA karena terdapat juga beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kejadian ISPA yaitu paparan dari virus, bakteri dan status gizi balita. Kejadian penyakit ISPA yang berulang pada balita dapat juga diakibatkan karena pengetahuan ibu mengenai penyakit, pencegahan penyakit dan cara pemeliharaan kesehatan yang masih kurang (Notoatmodjo, 2012). Apabila pengetahuan mengenai penyebab penyakit, pengobatan serta pencegahannya baik tentunya orang tua dapat mengontrol kesehatan anak sehingga tidak terjadi ISPA yang berulang.
Pemberian Hib  dapat memberikan tubuh kekebalan terhadap bakteri Haemophylus Influenza Type B. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit yang tergolong berat seperti pneumonia dan meningitis. Bakteri Haemophylus Influenza B paling sering terpapar pada anak yang berusia dibawah lima tahun, bakteri Haemophylus Influenza B ini biasanya hidup pada jalur pernafasan bagian atas (Mulyani & Rinawata, 2013). Masih tingginya ISPA pada balita, walaupun telah menerima imunisasi lengkap diakibatkan karena belum adanya vaksin yang dapat mencegah ISPA secara langsung. Status gizi, pemberian vitamin A serta faktor pengetahuan orang tua dapat mempengaruhi daya tahan tubuh balita sehingga balita mampu untuk menangkal suatu penyakit terutama ISPA. Jadi, walaupun seorang anak telah menerima imunisasi lengkap, kemungkinan untuk menderita ISPA tetap ada.

Referensi :
Layuk, R.R. 2012. Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Lembang Batu Suwu. FKM Universitas Hassanudin. Makassar. Diakses tanggal 9 November 2016 pukul 10.10 WITA dari http://repository.unhas.ac.id/bitstrea m/handle/123456789/4279/RIBKA% 20RERUNG%20LAYUK%20(K111 09326).pdf?sequence=1
Utami, S. 2013. Studi Deskriptif Pemetaan Faktor Resiko ISPA Pada Balita Usia 0-5 Tahun Yang Tinggal Di Rumah Hunian Akibat Bencana Lahar Dingin Merapi Di Kecamatan Salam Kabupaten Magelang. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang. Semarang. Diakses tanggal 9 November 2016 pukul 10.30 WITA dari http://lib.unnes.ac.id/18897/1/645040 8121.pdf
Notoatmodjo, S. 2012. Promosi Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta
Mulyani, N.S., & Rinawata, M. 2013. Imunisasi Untuk Anak. Penerbit Nuha Medika. Yogyakarta
Domili, M.F. 2013. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Global Mongolato. Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo. Diakses tanggal 9 November 2016 pukul 10.30 WITA dari http://eprints.ung.ac.id/4596/
Widarini, N.P., & Sumasari, N.L. 2010. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian ISPA Pada Bayi. PS. IKM Universitas Udayana. Bali. Diakses tanggal 9 November 2016 pukul 11.00 WITA dari http://poltekkesdenpasar.ac.id/files/JIG/V1N1/widari ni.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28625/4/Chapter%20II.pdf diakses tanggal 9 November 2016 pukul 10.40 WITA
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Menteri Kesehatan Republik Indonesia, diakses pada tanggal 9 November 2016 pukul 10.43 WITA dari http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/92_PMK%20No.%2042%20ttg%20Penyelenggaraan%20Imunisasi.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KLASIFIKASI BUNYI DAN BISING (MURMUR)

KLASIFIKASI BUNYI DAN BISING (MURMUR) Bunyi dan bising (murmur) dapat diklasifikasikan dalam skala satu sampai enam sebagai berikut: Tidak terdengar selama beberapa detik pertama auskultasi, baru terdengar setelah pemeriksa menyesuaikan diri. Terdengar segera tetapi samar-samar. Terdengar jelas tanpa terabanya denyutan ("thrust") atau getaran ("thri11"). Terdengar keras disertai dengan terabanya ("thrust") dan getaran ("thrill"). Terdengar keras disertai dengan terabanya denyutan dan getaran, walaupun ujung stetoskop hanyasekedar menyentuh dinding dada. Terdengar keras dengan terabanya denyutan dan getaran walaupun stetoskop tidak menyentuh dinding dada. Jenis-jenis bising • Bising sistolik  Bising sistolik adalah bising yang terdengar antara Sr dan 52. Pada beberapa orang, bising sistolik mungkin normal. Terurama bila terdapat pada bayi atau anak-anak karena dinding dada mereka yang ripis. Pada orang dewasa bising sistol...

Inkontinensia dengan berbagai Hubungannya....

Hubungan Diabetes Melitus terhadap inkontinesia Hiperglikemia dapat menyebabkan efek toksik melalui kerusakan saraf, termasuk dalam mekanisme yang mungkin untuk ini adalah aktivasi jalur polyol (yang menghasilkan akumulasi sorbitol dan fruktosa), meningkatkan produksi radikal bebas, mengaktifkan protein kinase C, dan meningkatkan pembentukan produk akhir terglikasi lanjutan. Gangguan metabolisme ini menyebabkan degenerasi aksonal dan gangguan konduksi saraf, yang kemudian bermanifestasi sebagai hiposensasi kandung kemih. Penurunan aktivitas asetilkolinesterase dalam biopsi kandung kemih pasien diabetes mungkin karena degenerasi aksonal dan yang lebih penting, proliferasi sel Schwann terjadi dalam upaya untuk menyebabkan penyelamatan regeneratif setelah demielinasi atau degenerasi aksonal. Penurunan sintesis faktor pertumbuhan saraf di kandung kemih atau transportasi faktor pertumbuhan saraf yang rusak ke lumbosacral dorsal rootlia dikaitkan dengan neuropati diabetes dan disfung...

Bagaimana sih mekanisme gejala yang timbul pada penderita Leptospirosis ?

Mekanisme demam Demam terjadi oleh karena pengeluaran zat pirogen dalam tubuh. Zat pirogen sendiri dapat dibedakan menjadi dua yaitu eksogen dan endogen. Pirogen eksogen adalah pirogen yang berasal dari luar tubuh seperti mikroorganisme dan toksin. Sedangkan pirogen endogen merupakan pirogen yang berasal dari dalam tubuh meliputi interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), dan tumor necrosing factor-alfa (TNF-A). Sumber utama dari zat pirogen endogen adalah monosit, limfosit dan neutrofil. Seluruh substansi di atas menyebabkan selsel fagosit mononuclear (monosit, makrofag jaringan atau sel kupfeer) membuat sitokin yang bekerja sebagai pirogen endogen, suatu protein kecil yang mirip interleukin, yang merupakan suatu mediator proses imun antar sel yang penting. Sitokin-sitokin tersebut dihasilkan secara sistemik ataupun local dan berhasil memasuki sirkulasi. Interleukin-1, interleukin-6, tumor nekrosis factor α dan interferon α, interferon β serta interferon γ merupakan sitokin yang...